Beranda | Artikel
Khutbah Idul Adha: Mewujudkan Tauhid melalui Ibadah Kurban
16 jam lalu

Khutbah Idul Adha: Mewujudkan Tauhid melalui Ibadah Kurban ini merupakan rekaman khutbah idul adha yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Senin, 10 Dzulhijjah 1447 H / 27 Mei 2026 M.

Khutbah Idul Adha: Mewujudkan Tauhid melalui Ibadah Kurban

Penyembelihan hewan kurban dilaksanakan sebagai bentuk pengesaan, pentauhidan, ketundukan, serta pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbul Alamin. Kewajiban serta syariat yang mulia ini telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban supaya mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Satu. Oleh karena itu, berserah dirilah kalian kepada-Nya dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk.” (QS. Al-Hajj[22]: 34)

Persatuan dan Pengorbanan Jemaah Haji di Baitullah

Pada hari-hari yang penuh berkah ini pula, jutaan kaum muslimin yang menjadi jemaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Baitullah Alharam. Mereka datang dengan bahasa yang bermacam-macam, berasal dari berbagai bangsa, serta berada dalam keadaan yang berbeda-beda. Meskipun demikian, hati seluruh jemaah haji disatukan oleh niat yang satu, yaitu memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan mereka semuanya.

Perjalanan suci ini dipenuhi dengan perjuangan yang luar biasa. Banyak di antara jemaah haji yang telah mengumpulkan biaya sedikit demi sedikit. Mereka menabung selama bertahun-tahun, menyisihkan pendapatan, serta menahan berbagai keinginan duniawi demi satu harapan yang besar, yaitu bersimpuh di Padang Arafah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan rezeki.

Para jemaah haji rela meninggalkan rumah yang nyaman, negeri yang aman, dunia yang dicintai, serta keluarga yang disenangi. Mereka mengenakan pakaian ihram yang sangat sederhana, rela mengantre dalam berbagai keadaan, dan menempuh perjalanan jauh yang melelahkan demi untuk berdiri di hadapan rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pergorbanan tersebut dilakukan untuk menumpahkan kerinduan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah terpendam lama di dalam hati.

Kerinduan yang mendalam mendorong para jemaah haji untuk melihat Baitullah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka hadir dengan hati yang tunduk, air mata yang berlinang, serta mengikrarkan kalimat talbiyah dengan penuh penghayatan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kehadiran jemaah haji di tanah suci bertujuan untuk mengadukan seluruh perkara hidup kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka datang dengan membawa dosa-dosa yang ingin ditangisi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kondisi hati yang sudah letih dengan kemaksiatan membawa mereka pada sebuah harapan besar, yaitu kembali ke tanah air dalam keadaan yang bersih dari dosa, seperti hari ketika mereka baru dilahirkan oleh ibunya.

Keutamaan Haji Mabrur dan Transformasi Jiwa

Harapan besar para jemaah haji untuk menyucikan diri selaras dengan janji Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa yang berhaji karena Allah lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka dia akan kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari)

Para jemaah melaksanakan tawaf dengan air mata yang berlinang, sai dengan hati yang khusyuk, serta berdoa dengan penuh harap. Mereka memohon ampunan atas kelalaian yang sangat panjang, sekaligus memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebuah kehidupan yang baru, yaitu kehidupan yang penuh dengan kedekatan kepada-Nya.

Sepulang dari tanah suci, jemaah haji mendambakan perubahan jiwa yang lebih lembut, kualitas salat yang lebih baik, tauhid yang lebih kuat, serta tekad yang lebih besar untuk meninggalkan dosa sekaligus istiqamah di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tujuan tertinggi mereka adalah meraih surga Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga tersebut menyediakan berbagai kenikmatan yang kekal abadi yang akan menghilangkan seluruh kesusahan yang pernah mereka rasakan selama di dunia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari)

Ikhtiar Menuju Tanah Haram bagi yang Belum Berhaji

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Lailahaillallah wallahu akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.

Banyak muslim yang memiliki keinginan kuat untuk menjadi tamu Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendapatkan pahala yang besar, diampuni segala dosa, serta dikabulkan setiap doa seperti para jemaah haji. Namun, tidak semua orang mendapatkan kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menunaikan ibadah tersebut. Ibadah haji merupakan taufik dan pilihan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah yang memanggil dan memudahkan siapa saja yang Dikehendaki-Nya.

Bagi kaum muslimin yang sampai hari ini belum memiliki kesempatan tersebut, terdapat tiga langkah yang dapat dilakukan:

Pertama: Meniatkan di dalam hati dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah haji apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemampuan di kemudian hari.

Kedua: Memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui doa yang tulus agar dimudahkan untuk menjadi tamu-tamu-Nya.

Ketiga: Mengambil sebab-sebab yang memungkinkan, seperti menabung sedikit demi sedikit, memprioritaskan urusan haji di atas berbagai kebutuhan duniawi, serta berusaha maksimal sesuai dengan kemampuan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan.

Apabila suatu hari nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan menuju tanah haram, maka seorang hamba wajib bersyukur atas karunia yang agung tersebut. Namun, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala belum menakdirkannya, umat Islam tidak boleh berputus asa karena keutamaan Allah ‘Azza wa Jalla sangat luas dan rahmat-Nya tidak terbatas. Ada banyak pintu kebaikan yang dibuka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya untuk mendekatkan diri, mendapatkan ampunan dosa, meraih pengabulan doa, serta jalan menuju surga.

Nasihat Mendalam Ibnu Rajab Al-Hambali

Mengenai kelapangan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang yang belum bisa berangkat haji, Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu taala memberikan sebuah nasihat yang sangat menyentuh:

مَنْ فَاتَهُ فِي هَذَا الْعَامِ الْقِيَامُ بِعَرَفَةَ فَلْيَقُمْ لِلَّهِ بِحَقِّهِ الَّذِي عَرَفَهُ ، وَمَنْ عَجَزَ عَنِ الْمَبِيتِ بِمُزْدَلِفَةَ فَلْيَبِتْ عَزْمُهُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ ، وَمَنْ لَمْ يُمْكِنْهُ الْقِيَامُ بِأَرْجَاءِ خَيْفٍ فَلْيَقُمْ لِلَّهِ بِحَقِّ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ ، وَمَنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى نَحْرِ هَدْيِهِ بِمِنًى فَلْيَذْبَحْ هَوَاهُ هُنَا ، وَمَنْ لَمْ يَصِلْ إِلَى الْبَيْتِ لِأَنَّهُ بَعِيدٌ فَلْيَقْصِدْ رَبَّ الْبَيْتِ فَإِنَّهُ أَقْرَبُ إِلَى مَنْ دَعَاهُ وَرَجَاهُ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Bagaimana khutbah selengkapnya? Mari download dan simak mp3 khutbah yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Khutbah Idul Adha

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Idul Adha: Mewujudkan Tauhid melalui Ibadah Kurban” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56285-khutbah-idul-adha-mewujudkan-tauhid-melalui-ibadah-kurban/